Mak, Aku dan Gethuk Lindri
hari-hari setelah dia pergi, aku merasakan hampa. dan hari-hari setelah dia pergi, aku harus belajar mengikhlaskan lagi.
dan hari-hari setelah dia tiada, aku hanya melanjutkan hidupku dengan sebaik-baiknya.
dan yang paling menyakitkan setelah kepergiannya adalah, aku telah lupa suara tawanya.
aku telah belajar banyak hal darinya, salah satunya adalah berjualan gethuk lindri.
sebuah makanan tradisional yang selalu membawa kepada kenangan yang tidak bisa terulang kembali. sebuah makanan sederhana yang ketika membuatnya mampu mengajarkan tentang kesabaran.
sebuah makanan tradisional yang akan selalu membuat hati menghangat.
setelah kepergiannya, mungkin makanan itu tetap sama rasanya seperti biasanya, tapi entah mengapa, aku tidak pernah menyentuhnya kembali sebab tenggorokanku selalu tercekat, bahkan sebelum menyentuhnya.
semoga, setelah kepergiannya hanya tangisan karena rindu yang ada. bukan menyesali ketika dia masih ada.
kini, sudah dua tahun berlalu. dan semoga wajahnya tidak cepat pudar dalam kepalaku.
kini, aku sudah terlampau dewasa, Mak.
kini, aku selalu merindukan Mak.
Komentar
Posting Komentar